Karena itu, Luthfi membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik dan saran. Masukan tersebut, menurutnya, justru dibutuhkan pemerintah sebagai bahan evaluasi untuk menghasilkan pembangunan yang lebih baik.
“Hari ini kami mencoba mencatat kembali dengan nyawiji, bersatu. Konsep membangun secara bersama-sama inilah yang kami terapkan di Jawa Tengah, di mana gotong royong dan kerukunan adalah modal dasar kita,” kata Luthfi.
Pesan tersebut menjadi salah satu penegasan penting dari Jateng Bersholawat: pembangunan tidak berhenti pada program pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi masyarakat.
Jateng Bersholawat sekaligus menjadi ruang refleksi bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari capaian ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga dari seberapa kuat masyarakat saling menjaga ketika menghadapi kesulitan.
Luthfi pun mengajak masyarakat Jawa Tengah untuk bersama-sama mendoakan keselamatan dan kesejahteraan daerah, sekaligus memberikan dukungan moral kepada masyarakat yang sedang menghadapi bencana.
“Semoga saudara-saudara kita dikuatkan dan segera recovery dari bencana, termasuk Jawa Tengah agar dijauhkan dari bencana,” ujarnya.
Di tengah lantunan selawat dan doa, semangat “Gumregut Nyawiji” pun menemukan maknanya: bergerak bersama, saling menguatkan, dan tidak membiarkan masyarakat menghadapi persoalan seorang diri.
Penutup rangkaian Hari Jadi ke-81 Jawa Tengah itu akhirnya bukan hanya menjadi perayaan, melainkan juga pengingat bahwa Jawa Tengah dibangun dari kebersamaan, dengan gotong royong sebagai kekuatan dan kepedulian sebagai wajah kemanusiaannya.*





