Selain produk jamu, pameran juga mendapat partisipasi dari sejumlah provinsi di luar Jawa Tengah. Kehadiran peserta dari Kalimantan dan Sumatera dinilai menjadi indikasi semakin luasnya daya tarik pameran.
Ia berharap penyelenggaraan tahun depan dapat semakin menarik, bukan hanya dalam mendatangkan pengunjung, tetapi juga mendorong masyarakat untuk berbelanja produk UMKM.
“Bukan hanya menarik pengunjungnya, tetapi juga menarik untuk membelanjakan uangnya di UMKM kita. Bagaimanapun juga ini bagian dari menyejahterakan UMKM, menyejahterakan masyarakat Jawa Tengah, dan bagian dari pengentasan kemiskinan,” ujarnya.
Taj Yasin juga mengapresiasi pelayanan OPD, khususnya fasilitasi bagi UMKM yang ingin menembus pasar ekspor.
Menurutnya, penguatan UMKM penting karena sektor tersebut terbukti mampu menopang perekonomian dalam menghadapi berbagai krisis, termasuk krisis moneter dan pandemi Covid-19.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Pemprov Jawa Tengah juga menghasilkan kerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).
Kerja sama tersebut diharapkan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk UMKM sekaligus membantu meningkatkan omzet penjualan.
Taj Yasi mengapresiasi prestasi Dekranasda Expo yang mencatat capaian transaksi yang signifikan. Omzet pada hari pertama mencapai sekitar Rp200 juta, hari kedua sekitar Rp165 juta, dan hingga Sabtu sore hari ketiga tercatat menembus sekitar Rp300 juta.
Hingga menjelang penutupan, jumlah pengunjung tercatat mencapai sekitar 15.159 orang dengan nilai transaksi penjualan sebesar Rp1,165 miliar.
Plt Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah Desy Arijani dalam laporannya mengatakan, pameran dirancang dengan konsep zonasi tematik untuk memberikan pengalaman yang lebih beragam kepada masyarakat sekaligus memperluas ruang promosi bagi pelaku UMKM.




