TNI–ADF Perkuat Pertahanan Siber melalui Simulasi Terpadu Keris Woomera 2026

oleh -3 Dilihat
oleh

JURNAL PEMALANG — Di tengah ancaman digital yang semakin kompleks, Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama Angkatan Bersenjata Australia (ADF) menggelar simulasi pertahanan siber secara terpadu.

Latihan yang menjadi bagian dari Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Keris Woomera 2026 ini dilaksanakan di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) 5 Marinir, Baluran, pada Jumat (16/10/2026).

Mengutip keterangan resmi Pusat Penerangan (Puspen) TNI, agenda utama simulasi ini adalah menguji sejauh mana infrastruktur digital militer mampu bertahan dari skenario peretasan, khususnya eksploitasi kerentanan pada sistem operasi Windows.

Baca Juga :  Sambut HUT ke-81 TNI Tahun 2026, Kodim 0711/Pemalang Sukses Gelar Turnamen Catur Dandim Cup, Diikuti 217 Pecatur dari Berbagai Daerah

Latihan ini membagi pasukan ke dalam dua kubu. Bertindak sebagai tim penyerang (Red Team), prajurit TNI menjalankan taktik penetrasi jaringan. Mereka mensimulasikan pencarian celah keamanan, eskalasi perolehan hak akses, hingga upaya pengambilalihan sistem direktori jaringan secara menyeluruh.

Untuk menangkis serangan tersebut, militer Australia yang tergabung dalam unsur pertahanan (Blue Team) menerapkan prosedur Digital Forensics and Incident Response (DFIR). Tim ADF merespons dengan cepat melalui analisis log keamanan jaringan dan melacak aktivitas mencurigakan berdasarkan indikator kompromi (IoC).

Lebih lanjut, skenario latihan ini juga menguji kecekatan tim dalam mengisolasi jaringan. Pemutusan atau penghentian sistem dilakukan secara terkendali guna memastikan dampak serangan tidak meluas ke infrastruktur vital lainnya.

Baca Juga :  Industri Halal Dinilai Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Tingkat keberhasilan manuver dari kedua pihak dievaluasi secara ketat oleh Joint Cyber Command/Exercise Control (JFCyC/EXCON) dengan menggunakan metrik standar operasional GO/NO-GO. Melalui Latgabma Keris Woomera 2026 ini, TNI dan ADF berharap dapat terus mematangkan kesiapan deteksi, respons insiden, dan interoperabilitas dalam menjaga stabilitas keamanan pertahanan di kawasan.