Untuk BRT, Luthfi menyebut elektrifikasi masih dalam tahap kajian. Pemerintah tidak ingin sekadar mengikuti tren kendaraan listrik, tetapi memastikan teknologi yang dipilih benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi transportasi di Jawa Tengah.
“Masih kita kaji, ya. Kita kaji termasuk Trans, kemudian taksi, kemudian travel. Jadi dalam kajian dari Dinas Perhubungan agar nanti betul-betul kita kedepankan itu,” ujarnya.
Menurut Luthfi, ukuran keberhasilan transformasi perhubungan bukan semata-mata seberapa banyak aplikasi atau teknologi baru yang diluncurkan. Teknologi harus memberikan solusi nyata terhadap persoalan mobilitas masyarakat.
“Sebaik apa pun terobosan kreatif kita, selama kita tidak mempunyai sense bagaimana menyelesaikan permasalahan, itu nanti akan terbatas hanya aplikasi,” tegasnya.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah Arif Djatmiko mengatakan taksi listrik dan travel listrik merupakan bagian dari delapan inovasi yang diluncurkan dalam Transformasi Perhubungan Jawa Tengah 2026.
“Yang kelima, peresmian taksi listrik dan travel listrik di Jawa Tengah. Jadi kami selalu ditanya Pak Gubernur, kapan ada listrik, kapan ada listrik? Pak, today. Hari ini kita launching taksi listrik dan travel listrik di Jawa Tengah,” katanya.
Transformasi juga menyentuh sistem pembayaran dan pengelolaan terminal. Dishub Jateng mulai menerapkan pembayaran nontunai atau cashless di Terminal Tipe B. Uji coba telah dilakukan di Terminal Sukoharjo dan selanjutnya direncanakan diterapkan pada 22 Terminal Tipe B yang dikelola pemerintah provinsi.
Sistem tersebut diharapkan membuat transaksi lebih transparan karena pembayaran dapat langsung tercatat dan masuk ke kas daerah.
Digitalisasi juga diperkuat melalui “DADI MANTEB”, yakni sistem digitalisasi monitoring dan pengawasan operasional Terminal Tipe B. Sistem ini memungkinkan pengelolaan terminal dilakukan berbasis data, termasuk pemantauan kendaraan dan laporan operasional.
Di sisi lain, Pemprov Jateng juga tengah membangun konektivitas antarmoda melalui kolaborasi layanan Trans Jateng dan Gojek.
Integrasi tersebut diarahkan untuk memudahkan masyarakat sejak perjalanan awal menuju halte hingga mencapai tujuan akhir. Dengan demikian, masyarakat tidak harus menggunakan kendaraan pribadi hanya karena akses menuju atau dari layanan Trans Jateng belum terhubung.





