“Tujuan akhirnya adalah tahun depan kita akan satu tiket antara Gojek dan Trans Jateng. Jadi first mile, last mile sudah tercakup semua,” kata Arif, yang akrab disapa Miko.
Upaya menggeser masyarakat dari kendaraan pribadi menuju transportasi publik juga telah menunjukkan hasil.
Data Dishub Jateng mencatat jumlah pengguna Trans Jateng sepanjang 2025 mencapai sekitar 10 juta penumpang. Dari jumlah tersebut, sekitar 53 persen merupakan pengguna yang beralih dari kendaraan pribadi.
Peralihan itu diperkirakan memberikan penghematan biaya transportasi masyarakat hingga sekitar Rp 50 miliar.
Capaian tersebut menjadi modal bagi pemerintah untuk terus memperluas layanan transportasi publik sekaligus mengurangi beban biaya perjalanan masyarakat.
Penggunaan Kartu Multi Trip untuk pembayaran Trans Jateng juga terus diperluas. Saat ini kartu tersebut telah digunakan pada satu koridor dan ditargetkan ke depan dapat diterapkan pada seluruh tujuh koridor Trans Jateng.
Transformasi transportasi Jawa Tengah dengan demikian tidak sekadar berbicara tentang kendaraan yang lebih modern. Di balik taksi listrik, digitalisasi terminal, integrasi Trans Jateng-Gojek, hingga rencana elektrifikasi BRT, pemerintah membidik perubahan yang lebih besar: transportasi yang lebih bersih, terjangkau, terintegrasi, dan semakin mudah digunakan masyarakat.*





