Satu di antaranya Eli Rahmawati, warga Salatiga, yang datang bersama lima sahabatnya. Mereka tidak sekadar ingin melihat konser. Mereka ingin mengulang penggalan masa lalu.
Eli dan teman-temannya bersedia menempuh berkilo-kilo meter perjalanan dan menunggu hingga malam demi bernostalgia bersama KLa Project.
“Kebetulan ini gratis, jadi pada minat semua teman-teman. Bisa bernostalgia, terutama untuk kami yang seusia, yang masih tahun 80-an,” kata Eli.
Nostalgia rupanya menjadi bahasa yang paling mudah menyatukan mereka malam itu. Usia boleh bertambah, rambut mungkin tak lagi sama, tetapi beberapa lagu memiliki kemampuan ajaib untuk mengembalikan seseorang pada masa ketika semuanya terasa lebih sederhana.
Eli tersenyum menikmati suasana. Bukan hanya karena tembang-tembang yang didendangkan, tetapi KLanis satu ini bisa menikmatinya bersama orang-orang yang memiliki cerita masa lalu yang sama.
“Kesannya luar biasa menyenangkan. Semoga pesta rakyat ini menjadi dedikasi dan inspirasi untuk berikutnya ada acara yang selanjutnya,” ujarnya.
Penonton lain, Antonius, warga Kota Semarang, mengaku jauh-jauh hari sudah persiapan akan datang.
Maklum, dia penggemar berat KLa Project sejak Kayon cs mulai dikenal publik pada 1988 lewat lagu “Tentang Kita”.
Antonius datang ditemani istri dan dua anaknya. Ia menikmati konser dengan cara sederhana: melewatkan bersama orang tercinta, bernyanyi, dan bahagia menikmati suasana.
“Mengikuti konser ini asyik, Mas. Mantap,” katanya sembari mengacungkan ibu jari.
