Ia menjelaskan bahwa tantangan pembiayaan UMKM bukan semata-mata ketiadaan dana, melainkan persoalan bankability.
Banyak UMKM tidak memiliki agunan, riwayat kredit, dan pencatatan keuangan yang terdokumentasi dengan baik sehingga sulit dinilai oleh lembaga keuangan.
Forum juga menghadirkan akademisi dari Universitas Airlangga dan University of Economics Ho Chi Minh City, serta membahas pengembangan ekosistem kewirausahaan, pemanfaatan AI, pemasaran berbasis human empathy, dan inklusi keuangan UMKM.
Salah satu agenda penting adalah peluncuran International Research Group for Entrepreneurship & SME (IRGESME) yang diketuai Dr. Iyus Wiadi. Kelompok riset ini diarahkan untuk mengembangkan penelitian, publikasi, hibah, proyek buku, dan berbagai kolaborasi internasional di bidang kewirausahaan dan UMKM.
Sementara itu, pengusaha dan mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menekankan pentingnya membangun pendidikan kewirausahaan berbasis tindakan. Ia mengusung prinsip “Think global, act local.”
Menurutnya, teknologi seperti AI dan robotika harus dimanfaatkan untuk mempercepat kreativitas, inovasi, dan pengembangan bisnis.
Ibnu Riyanto (founder dan CEO Trusmi Group juga mengungkapkan kiat membangun usahanya “Memperluas network adalah salah satu strategi penting dalam membangun bisnis. Saya percaya, semakin luas kita berjejaring, semakin banyak kesempatan untuk belajar, berkolaborasi, dan menemukan peluang baru. Pak Sandiaga Uno juga menjadi salah satu sosok yang saya jadikan teladan dalam membangun bisnis dan memperluas network.”
IFE 2026 menegaskan bahwa kewirausahaan bukan sekadar mata kuliah, melainkan mindset dan kemampuan yang dibutuhkan setiap mahasiswa. Perguruan tinggi didorong menjadi ekosistem kewirausahaan yang interdisipliner, berbasis pengalaman, terhubung dengan industri dan masyarakat, serta tetap menempatkan autentisitas, empati, dan kepercayaan sebagai kekuatan manusia di tengah perkembangan AI.*

