Karena itu, Taj Yasin berharap penghargaan tersebut tidak berhenti sebagai bentuk apresiasi. Ia menjadikannya sebagai penyemangat untuk terus memperbaiki kekurangan sekaligus memperkuat pengabdian kepada masyarakat.
“Saya berharap penghargaan ini menjadi penyemangat kami untuk mengoreksi kekurangan-kekurangan kami, meningkatkan khidmah kami kepada masyarakat,” ujarnya.
Taj Yasin juga mengajak perguruan tinggi untuk semakin terlibat dalam pembangunan daerah. Menurutnya, pemerintah tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan Jawa Tengah sendirian.
“Kami juga akan merangkul semuanya untuk menjadi bagian pembangunan dan penanganan permasalahan yang ada di Jawa Tengah,” katanya.
Rektor Unissula Prof Gunarto mengatakan, Budai Award diberikan bukan sekadar sebagai penghargaan atas jabatan atau popularitas seseorang. Tetapi sebagai bentuk apresiasi terhadap keteladanan yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.
Di tengah persoalan kepemimpinan yang dihadapi dunia, Unissula, kata dia, berupaya membangun generasi yang memiliki karakter kuat melalui budaya akademik Islami.
“Karakter unggul tidak sekadar diajarkan di ruang-ruang kuliah dan laboratorium, tetapi dilahirkan melalui kehidupan nyata di kebangsaan dan masyarakat,” ujar Gunarto.
Ia menyebut, Taj Yasin layak menerima penghargaan tersebut karena dinilai menunjukkan keteladanan dalam Birrul Walidain dan Takrimul Aulad, sekaligus meneruskan perjuangan ayahnya, KH Maimoen Zubair.
Menurut Gunarto, Taj Yasin juga memegang pesan yang pernah disampaikan ayahnya sebelum wafat. Takni menjaga pesantren, menjaga negara, dan menjaga pemerintahan melalui kerja nyata.
Nilai Takrimul Aulad, lanjut dia, antara lain tercermin dari perhatian Taj Yasin terhadap pendidikan para santri. Termasuk upaya mengusahakan beasiswa pendidikan tinggi di dalam maupun luar negeri.





