“Dalam perjalanan kita lihat suasana, nilai Islamnya sangat tinggi sekali. Itu sangat-sangat luar biasa,” ujar Umar.
Banyaknya masjid dan aktivitas keagamaan yang ditemui sepanjang perjalanan, kata dia, turut memberikan kesan tersendiri.
“Kita lihat masjidnya begitu banyak dan di mana-mana. Ketika kedengaran selawat atau suara azan itu sudah menggembirakan kepada kami,” tuturnya.
Tak hanya suasana religius, keragaman kuliner di Semarang dan Jawa Tengah juga menjadi pengalaman yang berkesan bagi Umar. Bahkan, ragam makanan yang ditemuinya mengingatkan dia pada kampung halamannya.
“Dari sisi kulinernya itu sangat luar biasa sekali. Tidak beda jauh dengan Ternate. Itu membuat kami ingat terus Ternate,” katanya.
Sementara itu, Pimpinan Kafilah Lampung, Haji Makmur, menyoroti tingginya antusiasme masyarakat dalam menyambut para peserta MTQ Nasional XXXI.
“Sangat luar biasa dari penyambutan, kemudian kita lihat antusias masyarakat yang hadir dalam pembukaan ini. Pokoknya sangat luar biasa,” ujarnya.
Namun, bagi Makmur, kemeriahan bukanlah tujuan utama MTQ. Di balik kompetisi antarkafilah, terdapat pesan yang lebih besar, yakni membangun persaudaraan dan menumbuhkan sportivitas.
“Masing-masing provinsi mengirim utusan ke sini untuk berlomba. Berlombalah yang sportif. Juara memang diharapkan oleh semua provinsi, tetapi itu bukan satu-satunya,” katanya.
Ia berharap nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran tidak berhenti di panggung perlombaan, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan para qari dan qariah.
“Persaudaraan, kompetisi yang baik itu yang kita harapkan, sehingga nilai-nilai Alquran itu bisa terjawantahkan dalam kehidupan para qari dan qariah itu sendiri,” ujar Makmur.
Makmur juga menyambut baik gagasan agar MTQ Nasional digelar setiap tahun. Menurut dia, penyelenggaraan tahunan dapat membuat persaingan antardaerah semakin kompetitif sekaligus mendorong pembinaan qari dan qariah secara berkelanjutan.






