Universitas Paramadina dan IPB University Bedah Paradigma GDP-Oriented dan Agenda Degrowth untuk Ekonomi Indonesia

oleh -13 Dilihat
oleh

JURNAL PEMALANGUniversitas Paramadina bersama Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University menggelar Diskusi dan Bedah Buku “Membongkar Paradigma GDP-Oriented: Agenda Degrowth dalam Ekonomi Politik Indonesia” pada Kamis, 20 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung secara hibrid dari Auditorium TP Rachmat Universitas Paramadina dan melalui Zoom tersebut menghadirkan sejumlah akademisi dan ekonom untuk membahas kembali arah pembangunan ekonomi Indonesia.

Diskusi menghadirkan Prof. Didin S. Damanhuri selaku penulis buku sekaligus Ekonom Senior INDEF, Prof. Fachry Ali sebagai penulis pengantar dan editor buku, Prof. Bambang Juanda, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, serta Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS. Diskusi dipandu oleh Wijayanto Samirin.

Mewakili Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini, Wakil Rektor Bidang Akademik Dr. Harry T.Y. Achsan menyampaikan bahwa buku karya Prof. Didin tetap relevan untuk dikaji karena menawarkan perspektif kritis terhadap paradigma pembangunan yang terlalu berorientasi pada GDP.

Baca Juga :  Estafet Obor Comal Kembali Semarak, Ribuan Warga Padati Jalan Gatot Subroto

“Buku ekonomi politik karya Prof. Didin ini mengangkat gagasan perlunya melihat kembali paradigma pembangunan yang terlalu berorientasi pada GDP serta pentingnya pendekatan degrowth yang memperhatikan dimensi ekonomi, sosial, dan ekologis,” ujar Dr. Harry.

Menurutnya, buku tersebut juga menyoroti pentingnya penguatan struktur ekonomi nasional, pemerataan, serta kekuatan ekonomi lokal Indonesia. Ia menambahkan bahwa diskusi mengenai buku tersebut telah dilakukan beberapa kali karena isu yang diangkat masih relevan dengan kondisi ekonomi dan pembangunan Indonesia saat ini.

Pertumbuhan Ekonomi Tidak Cukup Diukur dari GDP

Rektor IPB University Dr. Alim Setiawan Slamet menilai buku Prof. Didin mengajak publik untuk kembali mempertanyakan tujuan pembangunan. Menurutnya, selama ini keberhasilan pembangunan cenderung diukur dari tingginya angka pertumbuhan ekonomi, sementara dampaknya terhadap pemerataan dan lingkungan belum selalu menjadi perhatian utama.

“Saya selalu terkesan dengan buku ekonomi politik karya Prof. Didin. Karena buku tersebut mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya kembali sesungguhnya untuk apa dan untuk siapa pembangunan ini dijalankan,” kata Dr. Alim.

Ia menilai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat memiliki konsekuensi berupa ketimpangan dan kerusakan lingkungan apabila tidak disertai dengan pemerataan. Karena itu, paradigma pembangunan perlu diarahkan pada pertumbuhan yang memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat.

Dr. Alim juga memaparkan berbagai praktik yang dilakukan IPB University untuk menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan pemerataan dan keberlanjutan lingkungan.

“Salah satunya melalui pengembangan peternakan ramah iklim serta program One Village One CEO yang menempatkan mahasiswa dan alumni sebagai CEO desa untuk membantu membuka akses teknologi, pasar, dan pembiayaan bagi masyarakat desa,” katanya.