JURNAL PEMALANG – Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam empat tahun terakhir menyoroti sebuah tren paradoks di dunia pendidikan Islam: jumlah murid madrasah di beberapa kota besar di Indonesia justru mengalami penurunan. Menghadapi situasi ini, banyak lembaga merespons dengan memasang spanduk bertebaran dan menggenjot konten media sosial. Namun, benarkah itu solusinya?
Bagi Dr. Moh. Miftahul Arief, wisudawan terbaik Program Doktor UIN Walisongo Semarang, langkah reaktif tersebut sering kali meleset dari akar permasalahan.
“Promosi hanya membuat masyarakat urban melihat. Agar mereka memilih atau istilahnya Call-to-Action, lembaga harus mempunyai program yang relevan, pelayanan yang konsisten, dan bukti mutu yang dapat dipercaya,” kata Arief di Semarang, Sabtu (7/11/2026).
Untuk memecahkan kebuntuan tersebut, pria yang pernah meraih penghargaan Kepala Madrasah Berprestasi dari Kemenag Kota Semarang ini merumuskan Model Resonansi Urban-Spiritual. Melalui model ini, madrasah diajak untuk tidak hanya mengejar kuantitas pendaftar, tetapi juga membenahi tata kelola, pelayanan orang tua, jejaring kemitraan, hingga sistem fundraising.
Arief membagi strategi ini menjadi empat varian yang bisa disesuaikan dengan kapasitas madrasah: Professional-Premium (tata kelola dan fasilitas kuat), Balanced-Moderate (keseimbangan mutu dan biaya), Achievement-Inclusive (mengedepankan prestasi tanpa membatasi akses), dan Grassroots-Authentic (kedekatan tokoh lokal dan biaya terjangkau).
Menurutnya, madrasah rakyat (Grassroots) sama mulianya dengan madrasah premium. Kunci utamanya adalah pembuktian. Jika sebuah madrasah mengklaim unggul dalam program tahfiz, maka mereka wajib membuktikan kompetensi guru dan metode pembelajarannya agar dirasakan langsung oleh orang tua murid.
Gagasan ini mendapat apresiasi dari Peneliti BRIN yang juga pakar manajemen pendidikan, Dr. Aji Sofanudin. Ia sepakat bahwa riset pemasaran harus menjadi pijakan lembaga pendidikan sebelum melakukan promosi.
“Ke depan, tantangannya adalah bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi praktik pengelolaan yang terukur,” sebut Aji.
Pentingnya pembenahan mutu ketimbang sekadar iklan dibuktikan di lapangan oleh Misbachul Munir. Pengelola lembaga pendidikan terpadu di Gubug, Kabupaten Grobogan ini memilih tumbuh bertahap dengan terus membaca kebutuhan warga sekitar.
“Awalnya kami tidak langsung memiliki banyak unit pendidikan. Lembaga tumbuh bertahap karena kami terus membaca kebutuhan masyarakat dan menyesuaikan layanan. Promosi tetap penting, tetapi masyarakat bertahan dan merekomendasikan lembaga karena merasakan manfaatnya,” ungkap Munir.*





