Hujan Deras Tak Surutkan Semangat 3.000 Jamaah Pengajian di PRM Blere Cabang Bumiayu

oleh -16 Dilihat
oleh
Ketua PWM Jateng, Dr. KH.Tafsir, M.Ag isi Tausyiyah Inspiratif pada Pengajian Rutin Jum'at Kliwon PCM Bumiayu di PRM Blere.(Foto: Tarqum)

JURNAL PEMALANG – Pemandangan luar biasa terjadi di Pertigaan Dukuh Blere, Desa Adisana, Jumat (30/10/2026) siang. Sekitar 3.000 jamaah Muhammadiyah dari 25 PRM-PRA se-Cabang Bumiayu tetap bertahan mengikuti Pengajian Rutin Jumat Kliwon PCM Bumiayu meski diguyur hujan besar.

Acara yang berlangsung sejak pukul 12.40 hingga 16.00 WIB itu menghadirkan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Dr. KH. Tafsir, M.Ag sebagai penceramah utama.

“Alhamdulillah meski hujan besar acara tetap lancar, jamaah tetap semangat,” ujar Ketua PRM Blere, Abdul Ghafi, S.Pd, selaku tuan rumah yang terharu melihat antusiasme jamaah.

Baca Juga :  5 Bulan Tanpa Kabar, Langkah Arifin Berhenti di Sebuah Acara Tahlilan di Pekalongan

Semangat yang tak surut oleh hujan itu seolah menjadi bukti dari pesan utama yang disampaikan Dr. Tafsir dalam tausiyah bertema Meneguhkan Ideologi Muhammadiyah Sebagai Perekat Persatuan dan Penggerak Kemajuan Bangsa.

Pesan Alim dan Bijak di Tengah Hujan

Di tengah rintik hujan yang membasahi Blere, Dr. Tafsir menegaskan bahwa menjadi warga Muhammadiyah tidak cukup hanya bermodal semangat.

Baca Juga :  Korsleting Listrik Hanguskan Rumah di Bojong Pekalongan, Kerugian Capai Rp50 Juta

“Jadi orang Muhammadiyah itu harus punya ilmu, tidak cukup dengan semangat saja, harus Alim dan Bijak,” tegasnya.

Ia merinci, Alim berarti lurus niatnya untuk akhirat, mendalam ilmunya, dan bersih lisannya dari dusta. Sementara Bijak berarti mampu menyatukan perbedaan, tegas pada prinsip dan lembut dalam membina.

Pesan tersebut ditutup dengan analogi yang sangat membumi bagi warga Bumiayu yang akrab dengan dunia pertanian.

Baca Juga :  Bintang Ramadhon: Jika Ingin Diperjuangkan, Tulislah Narasi Berdasarkan Fakta

“Kalau kita Alim ilmunya, bijak tindakan dan sikapnya, maka akan tulus gerakan dakwahnya untuk menggapai bekal akhirat seperti bahagia dan istiqomahnya seorang petani yang terus merawat sawahnya secara konsisten,” pungkasnya.

Analogi petani yang merawat sawah setiap hari, baik saat panas maupun hujan, seolah menggambarkan apa yang terjadi di Blere hari itu. Dakwah yang konsisten, tidak musiman, dan tidak surut karena hujan.