JURNAL PEMALANG – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Banyumas sejak pertengahan 2026 mulai berdampak pada kehidupan masyarakat. Sejumlah wilayah mengalami kesulitan memperoleh air bersih, sehingga warga terpaksa menghemat penggunaannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat terdampak, Yayasan Gerakan Beramal Baik bersama Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Banyumas meluncurkan Program Bantuan Air Bersih Banyumas 2026 pada Selasa (25/8/2026).
Program yang mengusung tagar #gerakanBeramalBaik tersebut menjadi bagian dari upaya kemanusiaan dalam membantu warga menghadapi krisis air akibat kekeringan.
Distribusi bantuan dilakukan menggunakan armada tangki air bertuliskan SUBASITA CONSTRUCTION HUB.
Pelaksanaan program ini turut melibatkan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan SUBASITA CONSTRUCTION HUB, yang memberikan dukungan berupa armada serta logistik guna memastikan penyaluran air bersih berjalan lancar.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas per 13 Agustus 2026, sebanyak 39 desa/kelurahan telah menerima distribusi air bersih dengan total mencapai 1,311 juta liter.
Sementara hingga 10 Agustus 2026, tercatat 28.222 jiwa atau 8.371 kepala keluarga terdampak kekeringan.
Air Bersih Menjadi Kebutuhan Mendesak
Di balik angka tersebut, terdapat persoalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Air tidak hanya dibutuhkan untuk minum dan memasak, tetapi juga untuk mandi, mencuci pakaian, membersihkan rumah, menjaga kesehatan, serta mendukung aktivitas anak-anak.
Kecamatan Sumpiuh menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak cukup parah. Warga di sejumlah desa harus mengatur penggunaan air secara ketat agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi. Kekeringan di wilayah tersebut bukan persoalan baru. Kondisi serupa juga pernah terjadi pada 2023.
Melihat situasi tersebut, Yayasan Gerakan Beramal Baik dan Subasita.cons berkolaborasi dengan PDPM Banyumas serta MDMC Sumpiuh mendistribusikan air bersih ke lima desa, yakni Karanggedang, Kebokura, Kemiri, Kradenan, dan Nusadadi.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa penanganan kekeringan membutuhkan kekuatan bersama.





