Ketika sumber air semakin terbatas, kepedulian dan gotong royong menjadi energi yang menggerakkan bantuan dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Air yang disalurkan berasal dari sumber mata air milik Bu Tuniyem, kader PC Aisyiyah Sumpiuh, di Desa Lebeng, Kecamatan Sumpiuh.
Sumber mata air tersebut menjadi salah satu titik penting dalam memenuhi kebutuhan warga selama musim kemarau.
Relawan MDMC Sumpiuh, Gustono, turut membantu mengatur proses distribusi agar bantuan dapat diterima masyarakat yang membutuhkan.
“Dalam situasi kekeringan, air bersih bukan hanya soal bertahan hidup. Tapi juga untuk menjaga rutinitas hidup tetap berjalan, seperti anak-anak bisa sekolah dengan layak,” katanya.
Gotong Royong untuk Kemanusiaan
Ketua PDPM Banyumas, Subhan Purno Aji, mengatakan aksi tersebut merupakan wujud nyata semangat gotong royong Muhammadiyah dalam membantu masyarakat terdampak kekeringan.
“Yayasan Gerakan Beramal Baik menjadi penggerak utama. Kami dari ortom Muhammadiyah tinggal bahu-membahu menyalurkan ke titik-titik yang sudah dipetakan. Ini bukan kerja satu lembaga, tapi kerja bersama untuk kemanusiaan,” ujarnya.
Bagi warga, bantuan air bersih memiliki arti besar. Badriyah, salah seorang warga Kecamatan Sumpiuh, mengaku sangat terbantu dengan distribusi tersebut.
“Alhamdulillah ada bantuan. Ini penting biar cucu saya yang kelas 3 SD bisa mandi, cuci seragam, dan berangkat sekolah dengan bersih,” ujarnya.
Pengalaman Badriyah memperlihatkan bahwa dampak kekeringan tidak hanya menyangkut kebutuhan konsumsi. Krisis air juga berpengaruh terhadap kebersihan, kesehatan, pendidikan, dan kualitas hidup anak-anak.
Setiap jeriken air yang diterima warga menjadi harapan agar aktivitas keluarga tetap berjalan dan anak-anak dapat berangkat ke sekolah dengan tubuh bersih serta pakaian yang layak.





