Prof. Didik J. Rachbini: Pergantian Kepemimpinan BI Belum Cukup untuk Memperkuat Rupiah dalam Lima Tahun

oleh -7 Dilihat
oleh
Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini. (Foto:dok)

JURNAL PEMALANG — Pergantian kepemimpinan Bank Indonesia (BI) diperkirakan belum akan mengubah fundamental nilai tukar rupiah dalam lima tahun mendatang. Ekonom Senior sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menilai rupiah masih akan menghadapi tekanan karena persoalan struktural ekonomi Indonesia, baik dari sisi moneter, sektor riil, ekonomi domestik, maupun sektor luar negeri.

“Sampai 5 tahun mendatang rupiah tetap tidak akan menguat, akan tetap lemah dan bahkan terus melemah.” ujar Didik.

Menurut Didik, kepemimpinan baru BI tidak mudah mengubah berbagai kendala struktural yang selama ini membebani rupiah. Indonesia memang telah menjadi ekonomi besar dengan pasar domestik dan populasi yang besar, tetapi ukuran pasar tersebut tidak otomatis membuat mata uang kuat.

Baca Juga :  Proyek Panas Bumi Gunung Ungaran Belum Segera Masuk Tahap Pengeboran

Ekonomi yang terlalu bertumpu pada aktivitas domestik menghasilkan pertumbuhan PDB, lapangan kerja, dan keuntungan perusahaan, tetapi sebagian besar hanya menciptakan perputaran rupiah di dalam negeri.

“Pasar domestik yang besar tidak menjamin ekonomi menjadi kuat setidaknya dilihat dari nilai tukar mata uangnya.” katanya.

Di sisi moneter, Didik menilai BI masih akan mengandalkan instrumen suku bunga. Ketika rupiah tertekan, suku bunga dapat dinaikkan untuk menarik modal asing, tetapi kebijakan tersebut juga meningkatkan biaya transaksi, pembiayaan dunia usaha, KPR, dan investasi domestik.

Baca Juga :  Manisnya Nanas Madu Pemalang Pikat Pengunjung Apkasi Otonomi Expo 2026

Sebaliknya, penurunan suku bunga yang terlalu cepat dapat mendorong investor beralih ke aset dalam dolar AS.

“Kebijakan konservatif yang sederhana hanya dengan instrumen suku bunga tidak akan menjadikan nilai tukar lebih kuat.” tegasnya.

Menurutnya, persoalan rupiah juga berkaitan dengan lemahnya kepercayaan terhadap kepastian hukum, korupsi, biaya transaksi yang tinggi, serta daya saing sektor luar negeri yang belum kuat. Kondisi tersebut membuat rupiah sangat rentan bahkan tanpa harus menunggu terjadinya krisis.

Baca Juga :  Dukung Kesejahteraan PMI, BRI Fasilitasi Pertemuan Ibu dan Anak di New Taipei City

“Jadi dengan kondisi seperti ini, nilai tukar rupiah sangat rentan dan tidak perlu krisis untuk menjadikan rupiah lemah dengan sendirinya.” ujar Didik.

Didik menilai Indonesia juga perlu mengubah orientasi ekonomi yang saat ini cenderung inward looking. Dengan populasi sekitar 293 juta jiwa dan pasar domestik yang besar, pelaku usaha nasional memiliki ruang pertumbuhan yang luas tanpa harus agresif memasuki pasar global.

Namun, apabila produksi domestik masih banyak menggunakan bahan baku dan barang modal impor, pertumbuhan pasar dalam negeri justru dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar.