Pasca-Muktamar, NU Didorong Kembali Fokus pada Modernisasi dan Kemandirian Pesantren

oleh -5 Dilihat
oleh
Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D., Rektor Universitas Paramadina

Memperluas Pendidikan Pesantren

Transformasi tersebut, lanjut Prof. Didik, juga harus dimulai dari dalam sistem pendidikan pesantren sendiri. Pesantren perlu memperluas cakupan keilmuan yang diajarkan sehingga tidak hanya berfokus pada fikih, Al-Qur’an, dan hadis, tetapi juga mengembangkan ilmu yang berkaitan langsung dengan kehidupan dan realitas sosial.

Ia menekankan pentingnya pendalaman ayat-ayat kauniah, yakni tanda-tanda kebesaran Allah yang dapat dipahami melalui fenomena alam dan kehidupan, sebagai bagian dari pengembangan wawasan keilmuan.

Menurutnya, transformasi sosial yang telah berlangsung di lingkungan pesantren selama setengah abad merupakan modal penting untuk melanjutkan perubahan pendidikan dan kelembagaan pesantren.

Baca Juga :  Deretan Da'i Nasional Siap Meriahkan Tabligh Akbar Nasional dan Pembukaan Muktamar V Wahdah Islamiyah di Masjid Istiqlal Besok

“Pesantren telah dan harus terus menjadi mesin mobilitas sosial dan menjadi kanal mobilitas vertikal.”

Transformasi pesantren, dengan demikian, bukan sekadar perubahan pada kelembagaan pendidikan. Lebih jauh, transformasi tersebut merupakan bagian dari perubahan struktur sosial masyarakat Muslim Indonesia melalui peningkatan pendidikan, pembentukan kelas menengah, serta lahirnya modal intelektual baru.

Dari Penerima Menjadi Pelaku Pembangunan

Prof. Didik menyimpulkan bahwa agenda NU ke depan semestinya diarahkan pada transformasi pesantren dari posisi yang selama ini masih menghadapi ketertinggalan menuju keunggulan.

Baca Juga :  Perempuan Paramadina Dorong Perempuan Jadi Agen Perubahan untuk Pembangunan Berkelanjutan

“Agenda elit NU ke depan adalah membawa pesantren dari ketertinggalan menuju keunggulan, dari penerima pembangunan menjadi pelaku pembangunan, dan dari kekuatan sosial menjadi kekuatan intelektual, ekonomi, dan teknologi yang menentukan masa depan Indonesia.”

Karena itu, ia menilai agenda utama NU seharusnya tidak berhenti pada politik praktis kekuasaan. Kekuatan sosial dan politik yang dimiliki NU justru perlu dikonsolidasikan untuk mempercepat transformasi pesantren dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat nahdliyin.

“Agenda NU yang utama seharusnya bukan di wilayah politik praktis kekuasaan, tetapi konsolidasi pembangunan, menjadikan kekuatan sosial dan politik yang dimiliki untuk mempercepat transformasi pesantren dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat nahdliyin,” ujarnya.

Baca Juga :  Universitas Paramadina Gelar International Forum for Entrepreneurship Educators 2026

Gagasan tersebut menempatkan pesantren bukan sebagai warisan masa lalu yang harus dipertahankan semata, melainkan sebagai infrastruktur sosial strategis untuk membangun masa depan Indonesia. Jika transformasi tersebut dapat dilanjutkan secara konsisten, maka kekuatan sosial pesantren dan NU berpotensi berkembang menjadi kekuatan intelektual, ekonomi, teknologi, dan pembangunan yang semakin menentukan arah Indonesia ke depan.*